Rekonfigurasi Tubuh, Kesadaran, dan Estetika Pasca-Manusia
Abad ke-21 menandai sebuah era di mana batasan antara organisme biologis dan sistem teknologi tidak lagi bersifat biner, melainkan spektral. Fenomena eksentrisitas kontemporer dalam seni tidak lagi sekadar tentang perilaku menyimpang, melainkan sebuah penyelidikan ontologis yang mendalam terhadap apa yang mendefinisikan kemanusiaan di tengah kepungan mesin dan algoritma. Seniman masa kini telah melampaui penggunaan teknologi sebagai alat statis; mereka menjadikannya sebagai kanvas, struktur anatomi, dan bahkan agen kreatif yang mandiri. Transformasi ini menciptakan ketegangan antara visi evolusioner yang futuristik dan apa yang sering kali dianggap sebagai kegilaan medis atau psikologis oleh masyarakat umum. Melalui praktik radikal Stelarc yang merancang ulang tubuh, ketahanan durasional Marina Abramović yang menguji batas psikosomatik, serta algoritma “bermimpi” ciptakan para pemrogram AI, seni kontemporer sedang mendobrak batas normalitas untuk memetakan wilayah baru dalam evolusi manusia.
Arsitektur Tubuh yang Usang: Inovasi dan Transgresi Anatomi Stelarc
Stelarc, seorang seniman performa yang telah beroperasi selama lebih dari lima dekade, memelopori pandangan bahwa tubuh biologis manusia secara fundamental adalah entitas yang usang (obsolete body). Dalam perspektif ini, tubuh manusia dipandang sebagai struktur yang tidak memadai untuk berinteraksi dengan lingkungan teknologi yang terus dipercepat dan sistem data yang meluas secara eksponensial. Stelarc berargumen bahwa tubuh tidak seharusnya dipertahankan dalam bentuk “alaminya,” melainkan harus dirancang ulang menjadi sebuah konfigurasi sementara yang siap untuk reinvensi terus-menerus melalui integrasi mekanis dan virtual.
Proyek “Ear on Arm”: Antara Visi Artistik dan Kegilaan Medis
Proyek yang paling mencengangkan dalam diskursus seni kontemporer adalah upaya Stelarc untuk membangun sebuah telinga ketiga yang tumbuh secara permanen di lengan bawahnya. Proyek ini bukan sekadar simulasi estetik, melainkan sebuah prosedur bedah dan bioteknologi yang sangat kompleks yang berlangsung selama bertahun-tahun. Tujuannya bukan untuk meningkatkan pendengaran pribadi Stelarc, melainkan untuk menciptakan sebuah organ nirkabel yang terhubung ke internet bagi publik global. Dengan menyisipkan mikrofon dan pemancar nirkabel ke dalam struktur telinga tersebut, Stelarc memposisikan dirinya sebagai perpanjangan dari jaringan informasi dunia.
Implementasi proyek ini melibatkan serangkaian prosedur yang menguji batas etika medis konvensional. Stelarc membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk mendapatkan pendanaan dan menemukan tim ahli bedah plastik yang bersedia melakukan prosedur yang secara fungsional tidak diperlukan bagi kesehatan pasien. Tabel berikut merangkum spesifikasi teknis dan tantangan medis yang dihadapi dalam realisasi “Ear on Arm”:
| Parameter Teknis | Detail Implementasi | Material dan Metode |
| Struktur Perancah | Medpor (Porous Polyethylene) | Biokompatibel dengan pori 100–250 mikrometer. |
| Lokasi Anatomi | Lengan Bawah Bagian Dalam | Kulit tipis dan halus untuk meminimalkan kerusakan fisik. |
| Metode Ekspansi | Larutan Salin Steril | Injeksi rutin selama berbulan-bulan untuk meregangkan kulit. |
| Integrasi Biologis | Vaskularisasi Jaringan | Penetrasi seluler dan pertumbuhan pembuluh darah ke perancah. |
| Konektivitas | Mikrofon Nirkabel | Transmisi suara melalui Bluetooth/Wi-Fi ke audiens internet. |
Perdebatan mengenai apakah tindakan ini merupakan seni visioner atau kegilaan medis berakar pada komplikasi berat yang dialami Stelarc. Selama proses ekspansi kulit, terjadi nekrosis atau kematian jaringan yang memaksa pengangkatan sebagian konstruksi dan reposisi telinga. Lebih parah lagi, infeksi serius pecah setelah pemasangan mikrofon internal yang dibiarkan selama seminggu, menempatkan Stelarc dalam risiko kehilangan seluruh lengannya demi sebuah telinga buatan. Meskipun demikian, Stelarc menolak label “gila” dan menyatakan bahwa praktiknya adalah eksplorasi terhadap “arsitektur anatomi alternatif” yang diperlukan bagi manusia untuk beroperasi di luar biosfer bumi.
Agensi Terdistribusi dan Fisiologi yang Terbagi
Filosofi Stelarc melampaui modifikasi bedah menuju konsep agensi terdistribusi, di mana identitas seseorang tidak lagi terlokalisasi dalam satu tubuh fisik. Dalam karya-karya seperti Third Hand, Ping Body, dan Reclining Stickman, Stelarc menggunakan prostetik robotik dan stimulasi otot listrik untuk menciptakan loop interaktif antara tubuhnya, mesin, dan audiens global. Dalam performa Ping Body, aktivitas data di internet diubah menjadi tegangan listrik yang memicu kontraksi otot involunter pada tubuh Stelarc, sehingga ia menjadi sebuah “end-effector” bagi sistem virtual.
Fenomena ini menciptakan kondisi yang disebut sebagai “fisiologi yang terbagi” (split physiology). Sementara pikiran sadar Stelarc mungkin mencoba melakukan satu gerakan, rangsangan luar dari audiens internet memaksa tubuhnya melakukan gerakan lain. Hal ini menantang gagasan tradisional tentang otonomi subjek. Tubuh tidak lagi menjadi situs bagi psikis atau identitas sosial, melainkan murni menjadi situs bagi pahatan fungsional dan eksperimen sistemik. Stelarc membayangkan masa depan di mana kita harus mampu meluncur dengan mulus di antara tiga mode operasi: tubuh biologis, tubuh yang diperkuat secara mesin, dan sistem virtual yang terdistribusi.
Ketahanan yang Menyakitkan: Fenomenologi Marina Abramović
Berbeda dengan Stelarc yang mencoba melarikan diri dari keterbatasan biologis melalui teknologi, Marina Abramović mengeksplorasi batas-batas tersebut dengan mengandalkan ketahanan psikosomatik yang ekstrem. Abramović dikenal sebagai pelopor seni performa yang menggunakan tubuhnya sendiri sebagai kanvas dan subjek uji untuk mengeksplorasi rasa sakit, kelelahan, dan hubungan energi antara seniman dan audiens.
Estetika Keheningan dan Kehadiran dalam “The Artist is Present”
Dalam karyanya yang paling ikonik di Museum of Modern Art (MoMA) pada tahun 2010, The Artist is Present, Abramović duduk diam selama 736 jam selama periode tiga bulan. Mengapa seseorang bersedia melakukan ini? Bagi Abramović, ini adalah ujian terhadap “kehadiran” murni. Dengan menatap mata 1.545 pengunjung yang berbeda satu per satu tanpa bicara, ia menciptakan ruang intim untuk transfer energi yang sering kali memicu respons emosional yang sangat mendalam dari pengunjung.
Ketahanan semacam ini sering kali dikaitkan dengan konsep sisu dari Finlandia—sebuah bentuk ketabahan batin yang melampaui kegigihan biasa. Sisu bukan sekadar kekuatan kasar, melainkan kemenangan kelenturan di atas rasa sakit dan kemampuan untuk menyelaraskan pikiran dengan materi. Dalam durasi 736 jam tersebut, Abramović melampaui rasa sakit fisik dari atrofi otot dan kelelahan mental untuk mencapai kondisi meditasi yang mendalam, membuktikan bahwa tubuh manusia memiliki cadangan energi yang jarang tersentuh dalam kehidupan modern yang serba cepat.
| Karya Performa | Durasi/Objek | Tujuan Filosofis | Dampak pada Tubuh/Audiens |
| The Artist is Present | 736 Jam | Transfer energi dan kehadiran murni | Atrofi otot, kelelahan mental, empati kolektif. |
| Rhythm 0 | 6 Jam / 72 Objek | Menguji agresi dan tanggung jawab audiens | Luka sayatan, ancaman pembunuhan, dekonstruksi moral. |
| Rising (VR) | Virtual | Meningkatkan empati terhadap krisis iklim | Simulasi “tenggelam” untuk memicu aksi nyata. |
Eksperimen Sosial dalam “Rhythm 0”
Karya Rhythm 0 (1974) merupakan salah satu contoh paling ekstrem dari penyerahan otonomi tubuh kepada publik. Abramović berdiri diam di sebuah galeri selama enam jam dan membiarkan penonton melakukan apa saja pada tubuhnya menggunakan 72 objek yang disediakan, termasuk mawar, pisau, hingga pistol yang terisi peluru. Eksperimen ini mendobrak batas normalitas dengan menunjukkan betapa cepatnya manusia dapat beralih dari empati menuju kekejaman ketika hambatan sosial dihilangkan. Di akhir performa, Abramović telah disayat, ditelanjangi, dan hampir ditembak, menyoroti kerentanan tubuh manusia di hadapan kekuatan kolektif yang tidak terkendali.
Abramović berargumen bahwa performa ini bukan tentang masokisme, melainkan tentang eksplorasi batas-batasan psikis. Dengan menempatkan tubuhnya dalam risiko kematian, ia memaksa audiens untuk menghadapi “hantu” dalam moralitas mereka sendiri. Di era modern, Abramović melanjutkan eksplorasi ini melalui teknologi realitas virtual (VR) dalam karya Rising, di mana ia menantang pemain untuk menyelamatkan avatarnya dari tangki air yang perlahan penuh akibat mencairnya es di kutub, menguji apakah empati yang sama dapat dirasakan dalam ruang digital.
“Hantu” dalam Mesin: Eksentrisitas Algoritmik dan Mimpi AI
Di seberang spektrum modifikasi fisik, muncul bentuk eksentrisitas baru yang tidak berakar pada daging manusia, melainkan pada kode. Para pemrogram kontemporer yang eksentrik mulai menciptakan sistem kecerdasan buatan yang tidak hanya berfungsi secara utilitarian, tetapi juga mampu “bermimpi” dan menghasilkan karya seni surealis yang menantang persepsi manusia tentang kreativitas.
Alexander Mordvintsev dan Kelahiran DeepDream
Kisah penemuan DeepDream oleh Alexander Mordvintsev pada tahun 2015 merupakan salah satu momen paling penting dalam sejarah seni AI. DeepDream lahir dari sebuah eksperimen yang tidak disengaja ketika Mordvintsev, yang terbangun dari mimpi buruk pada pukul dua pagi di Zurich, memutuskan untuk mencoba membalikkan fungsi pengenalan gambar pada jaringan saraf saraf konvensional (Convolutional Neural Networks).
Alih-alih membiarkan jaringan saraf mengidentifikasi objek dalam sebuah gambar, Mordvintsev menginstruksikan algoritma tersebut untuk memperkuat apa pun yang “dilihatnya”—sebuah proses yang dikenal sebagai algorithmic pareidolia. Jika algoritma mendeteksi kemiripan samar antara awan dan mata anjing, ia akan memanipulasi gambar tersebut untuk membuatnya lebih mirip mata anjing, kemudian mengulangi proses tersebut hingga gambar asli berubah menjadi lanskap halusinasi yang dipenuhi dengan bentuk-bentuk hibrida yang aneh.
| Komponen Algoritma | Deskripsi Operasional | Implikasi Estetika |
| Layer Tersembunyi | Bagian internal CNN yang memproses fitur abstrak | Sumber detail surrealis yang “terpendam”. |
| Iterasi Balik | Backpropagation ke input gambar asli | Penguatan pola hingga menjadi halusinasi visual. |
| Bias Dataset | Pengaruh data pelatihan (misal: ImageNet) | Munculnya motif berulang seperti mata anjing dan kucing. |
| Ruang Laten | Navigasi di antara titik data yang dipelajari | Penciptaan tekstur dan bentuk yang belum pernah ada. |
Hasil visual dari DeepDream sering kali terasa menakutkan sekaligus mempesona, menyerupai lukisan psikadelik tahun 1960-an atau penglihatan dalam mimpi buruk. Mordvintsev berhasil menunjukkan bahwa komputer, melalui lapisan-lapisan tersembunyinya, memiliki cara unik dalam melihat dunia yang tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh manusia. Ini adalah manifestasi dari “hantu dalam mesin”—sebuah agensi kreatif yang muncul dari interaksi kompleks jutaan parameter algoritma yang melampaui niat awal pemrogramnya.
Ontologi AI: Antara Alat dan Rekan Kerja
Pergeseran peran pemrogram dari seorang instruktur menjadi seorang kurator ekosistem menandai era baru dalam kreativitas teknologi. Algoritma sekarang dipandang sebagai rekan kreatif atau “magang” yang memberikan perspektif non-antroposentris pada seni. Insinyur AI seperti Miyake Yōichirō berpendapat bahwa tujuan masa depan adalah untuk memberikan AI “keinginan dan kekhawatiran” agar mereka dapat mencapai tingkat kecerdasan yang lebih mirip manusia dan holistik.
Konsep “Ghost in the Machine” dalam seni AI juga berkaitan dengan gagasan tentang kesalahan atau glitch sebagai fitur sistemik. Seperti yang direfleksikan melalui karya-karya Kafka yang dianalisis dalam konteks AI, kegagalan dalam administrasi mesin atas kehidupan manusia sering kali merupakan bagian integral dari kekuasaan sistem tersebut. Dalam seni, glitch ini menjadi ruang bagi keajaiban; ketidakmampuan algoritma untuk memahami makna semantik secara sempurna justru menghasilkan interpretasi visual yang aneh dan puitis yang tidak akan pernah terpikirkan oleh pikiran manusia yang logis.
Integrasi Eksentrisitas: Menuju Masa Depan Pasca-Manusia
Ketika kita membandingkan intervensi bedah Stelarc, ketahanan Abramović, dan mimpi-mimpi AI, terlihat sebuah narasi yang konsisten mengenai pendobrakan batas normalitas. Ketiganya mempertanyakan integritas tubuh dan kesadaran dalam era yang didominasi oleh teknologi digital.
Redefinisi Kemanusiaan: Tubuh sebagai Host dan Antarmuka
Stelarc membayangkan tubuh sebagai sebuah “host” bagi karya seni dan teknologi. Pandangan ini mengubah konsep otonomi manusia menjadi konsep simbiotik. Tubuh bukan lagi tempat persemayaman jiwa, melainkan sebuah simpul dalam jaringan global. Di sisi lain, Abramović menunjukkan bahwa melalui teknologi VR, kehadiran seorang seniman dapat ditransmisikan melampaui batas fisik, memungkinkan interaksi yang tak terbatas dalam dimensi digital.
Kedua pendekatan ini menunjukkan bahwa “manusia” adalah kategori yang terus berkembang. Kita tidak lagi hanya berfungsi sebagai organisme biologis offline, tetapi secara terus-menerus sebagai “phantom” online. Transisi ini melibatkan apa yang disebut sebagai anthropotechnology—sebuah pembayangan ulang fundamental tentang hakikat manusia di mana garis antara organik dan artifisial menjadi semakin tidak berarti.
Kritik terhadap Ketahanan dan Ketangguhan Modern
Konsep sisu Finlandia memberikan lensa kritis untuk memahami mengapa seniman kontemporer begitu terobsesi dengan ketahanan ekstrem. Namun, ada juga peringatan mengenai “sisi bayangan” dari ketangguhan tersebut—ketika ketekunan berubah menjadi kekeraskepalaan yang merusak diri sendiri atau orang lain. Abramović menghindari jebakan ini dengan menggunakan ketahanannya sebagai alat untuk empati, bukan sekadar pamer kekuatan.
Sebaliknya, teknologi menawarkan bentuk ketahanan yang berbeda: keabadian digital. Melalui AI dan avatar virtual, ide dan kehadiran seorang seniman dapat bertahan selamanya, bebas dari kerentanan daging dan darah. Namun, transisi ini juga membawa risiko alienasi. Seniman seperti Otto Dix dan George Grosz pada awal abad ke-20 telah memperingatkan bahwa integrasi teknologi (seperti prostetik pasca-perang) dapat menjadi simbol dehumanisasi dan alienasi dalam masyarakat mekanis.
Etika, Keamanan, dan Tanggung Jawab dalam Seni Tekno-Eksentrik
Eksentrisitas yang melibatkan modifikasi bedah dan integrasi internet memicu tantangan etis dan hukum yang belum pernah ada sebelumnya. Proyek seperti “Ear on Arm” menuntut respons institusional mengenai tanggung jawab legal, hak akses data, dan keamanan siber terhadap tubuh manusia yang terhubung. Jika tubuh seseorang diretas melalui implan teknologinya, siapa yang bertanggung jawab?
Demikian pula dalam seni AI, muncul pertanyaan tentang kedaulatan data dan orisinalitas. Ketika sebuah algoritma “bermimpi” berdasarkan jutaan gambar milik orang lain, batasan antara inspirasi dan pencurian data menjadi kabur. Kita sedang memasuki era di mana kode bukan lagi produk akhir yang statis, melainkan “hantu” transien yang terus berubah dan mengadaptasi dirinya sendiri untuk menyelesaikan masalah spesifik dalam waktu singkat—apa yang disebut sebagai napkin code.
Kesimpulan: Evolusi Melalui Gangguan Kreatif
Eksentrisitas kontemporer dalam seni dan teknologi bukanlah sekadar aksi untuk mencari perhatian, melainkan sebuah strategi bertahan hidup dan evolusi di era modern. Seniman seperti Stelarc, Marina Abramović, dan para pionir AI sedang memetakan batas-batas baru dari apa yang mungkin bagi spesies manusia.
Melalui modifikasi anatomi yang berisiko, kita belajar tentang potensi tubuh sebagai antarmuka teknologi. Melalui ketahanan durasional yang menyakitkan, kita menemukan kembali kekuatan kehadiran dan empati di tengah dunia yang terdistraksi. Dan melalui algoritma yang mampu bermimpi, kita mulai memahami bahwa kreativitas adalah fenomena emergen yang tidak terbatas pada sirkuit biologis manusia.
Pendobrakan batas normalitas ini penting karena teknologi tidak pernah netral; ia selalu mencerminkan dan membentuk nilai-nilai serta dinamika kekuasaan dalam masyarakat. Dengan bertindak secara eksentrik, para seniman ini memberikan gangguan yang diperlukan pada sistem yang ada, memaksa kita untuk berhenti sejenak dan mempertanyakan ke mana arah evolusi kita. Apakah kita akan menjadi mesin, atau apakah kita akan berhasil menanamkan “hantu” kemanusiaan kita ke dalam mesin-mesin tersebut? Jawabannya terletak pada keberanian untuk terus bereksperimen, meskipun itu berarti harus menumbuhkan telinga di lengan atau duduk diam selama ratusan jam di depan orang asing. Eksentrisitas adalah kompas kita menuju wilayah pasca-manusia yang belum terpetakan.

