Seni Berjalan Kaki Jepang: Hubungan Timbal Balik antara Morfologi Urban, Filosofi Ikigai, dan Pembentukan Modal Sosial
Tulisan ini menyajikan analisis interdisipliner mengenai hubungan kausal antara desain lingkungan perkotaan yang ramah pejalan kaki (walkable environment) di Jepang dan kemampuan penduduk untuk mencapai filosofi hidup Ikigai (alasan hidup), serta pembentukan Modal Sosial (kohesi komunitas). Analisis ini membuktikan bahwa tata kota Jepang berfungsi sebagai prasyarat struktural yang secara aktif memfasilitasi tujuan filosofis dan sosiologis di tingkat harian.
Pondasi Filosofis: Ikigai dan Kualitas Hidup Berorientasi Tujuan
Definisi Filosofis Ikigai: Keseimbangan Tujuan dan Kontribusi
Ikigai (生き甲斐) adalah filosofi hidup asal Jepang yang secara harfiah berarti “alasan untuk hidup,” berasal dari kata iki (hidup) dan gai (alasan atau nilai). Konsep ini telah berkembang sejak era Heian (794–1185) dan sering dikaitkan dengan faktor kunci yang menghasilkan angka harapan hidup tertinggi di dunia, seperti yang diamati di Okinawa. Ikigai bukan sekadar teori abstrak, melainkan kerangka kerja praktis yang mengajarkan keseimbangan antara empat elemen utama:
- Passion (Apa yang kamu cintai): Aktivitas yang membangkitkan semangat.
- Profession (Apa yang kamu kuasai): Keahlian atau kompetensi profesional.
- Vocation (Apa yang dibutuhkan oleh dunia): Kebutuhan sosial atau pasar.
- Mission (Apa yang bisa kamu dapatkan imbalannya): Sumber pendapatan atau karier.
Pencapaian Ikigai pribadi terbentuk ketika keempat elemen ini bertemu. Secara krusial, dua dari empat elemen—Vocation dan Mission—secara eksplisit menempatkan pencarian makna hidup dalam konteks sosial dan komunitas. Keseimbangan ini menuntut individu untuk menjalani hidup dengan tujuan yang jelas, bukan hanya untuk kepuasan pribadi, tetapi juga untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Sebuah pemahaman yang mendalam menunjukkan bahwa Ikigai melampaui kebahagiaan individu; ia berfungsi sebagai prasyarat urban yang harus didukung oleh lingkungan fisik. Jika tata kota dirancang untuk mengisolasi individu atau memaksa ketergantungan pada mobil, manifestasi fisik dari Vocation (bertemu kebutuhan dunia) dan Mission (kontribusi sosial) menjadi terbatas. Oleh karena itu, walkability dalam lingkungan Jepang yang padat berfungsi sebagai prasyarat struktural yang memungkinkan operasionalisasi filosofi hidup ini secara kolektif. Keberhasilan Ikigai di Jepang adalah cerminan langsung dari desain kota yang secara aktif meniadakan isolasi fisik, memastikan bahwa setiap orang dapat mengakses dan berpartisipasi dalam komunitas mereka.
Integrasi Ikigai dalam Rutinitas Harian
Filosofi Ikigai menekankan bahwa kebahagiaan sejati dapat ditemukan melalui aktivitas sederhana namun bermakna. Dalam konteks perkotaan Jepang, berjalan kaki adalah aktivitas harian yang paling mudah diubah menjadi ritual yang bermakna.
Berjalan kaki yang dipicu oleh lingkungan yang dirancang untuk kenyamanan secara inheren mendukung praktik mindfulness. Perjalanan yang seharusnya menjadi beban atau balapan kini diubah menjadi observasi bermakna. Konsep estetika Jepang, Wabi-Sabi (keindahan dalam ketidaksempurnaan) , dapat diterapkan pada apresiasi lingkungan berjalan kaki harian yang dinamis, di mana perubahan musiman atau interaksi tak terduga menjadi sumber kegembiraan kecil yang bermakna.
Selain itu, rutinitas berjalan kaki yang berkelanjutan dan terjamin oleh infrastruktur secara efektif mewujudkan prinsip Kaizen (perbaikan harian yang kecil dan berkelanjutan). Penelitian empiris menunjukkan bahwa peningkatan skor walkability lingkungan sebesar satu standar deviasi dapat dikaitkan dengan peningkatan 302 langkah harian. Peningkatan aktivitas fisik harian yang kecil namun konsisten ini adalah perbaikan berkelanjutan dalam kesehatan fisik dan mental. Desain urban Jepang memanfaatkan inersia harian (kebutuhan untuk bergerak) untuk memicu manfaat Ikigai, mengubah kewajiban bergerak menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup secara pasif. Rutinitas berjalan kaki yang terjamin oleh infrastruktur memastikan bahwa individu secara berkelanjutan meningkatkan kualitas hidup mereka setiap hari, selaras dengan prinsip-prinsip Kaizen.
Morfologi Urban Jepang: Menciptakan Lingkungan yang Ramah Ikigai
Kenyamanan berjalan kaki di kota-kota Jepang seperti Tokyo, Kyoto, atau Osaka bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari undang-undang perencanaan kota dan sistem zonasi yang teliti, yang secara kuat menekankan transportasi berpusat pada manusia dan kenyamanan sehari-hari.
Prinsip Dasar Tata Ruang: Mengatur Kepadatan untuk Kenyamanan Harian
Tata kota Jepang berlandaskan pada City Planning Act yang membagi seluruh lahan menjadi 13 kategori zonasi yang ketat. Sistem ini mengatur secara rinci, termasuk apakah fasilitas komersial (restoran, toko serba ada) diizinkan, batasan ketinggian bangunan, rasio luas lantai, serta regulasi kebisingan dan lalu lintas. Fungsi utama sistem ini adalah melindungi area residensial dari gangguan besar, seperti pabrik besar atau bar larut malam, sekaligus memastikan zona komersial terorganisir dan terkonsentrasi.
Meskipun sistem zonasi tersebut ketat, model perencanaan Jepang berhasil menerapkan Konsep Micro-Mixed Use. Ini berarti meskipun terdapat pemisahan zonasi, campuran guna lahan skala mikro yang terkonsentrasi—seringkali berbentuk shōtengai (distrik perbelanjaan tradisional, dibahas lebih lanjut di Bagian IV)—ditempatkan dalam jarak berjalan kaki dari permukiman. Kombinasi ini memastikan bahwa penduduk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa memerlukan kendaraan, menjaga ketenangan di zona residensial sekaligus menawarkan akses komersial yang mudah.
Lebih lanjut, perencanaan Jepang menekankan Prioritas Kenyamanan Sensoris ruang publik. Di daerah yang sangat padat, masalah insolasi (paparan sinar matahari) menjadi perhatian, memicu peraturan yang mengurangi konflik dan mengatur tinggi bangunan. Kota Yokohama, misalnya, menetapkan “Pedoman untuk Bayangan Matahari” pada tahun 1973 untuk memandu pembatasan bentuk bangunan dan ketinggian, termasuk garis miring sisi utara di distrik tinggi. Tujuan eksplisitnya adalah memberikan sinar matahari yang cukup bagi perumahan yang ada, dan secara implisit, memastikan jalur pejalan kaki nyaman dan tidak pengap.
Kebijakan anti-shadowing ini menunjukkan pergeseran fokus perencanaan dari sekadar estetika arsitektur ke kualitas pengalaman hidup. Dengan memastikan jalur pejalan kaki cerah dan terlindungi, pemerintah secara pasif mendorong warganya untuk keluar dan berinteraksi. Perencanaan kota ini berfungsi sebagai alat untuk rekayasa perilaku (behavioral engineering) yang ramah lingkungan, menjadikan berjalan kaki sebagai pilihan yang lebih menarik daripada berkendara.
Infrastruktur Walkability dan Integrasi Transportasi
Kualitas lingkungan berjalan kaki secara langsung memengaruhi aktivitas fisik. Data penelitian menunjukkan korelasi positif yang signifikan: peningkatan skor walkability lingkungan sebesar satu standar deviasi dikaitkan dengan peningkatan 302 langkah harian.
Fenomena ini didukung oleh Integrasi First-Mile/Last-Mile yang efisien dalam sistem transportasi publik Jepang. Kereta api, termasuk Shinkansen, kereta bawah tanah (subway), dan bus, dikenal sangat andal, tepat waktu, dan terintegrasi. Berjalan kaki menjadi segmen yang tak terhindarkan dan vital dalam setiap perjalanan komuter. Sistem pembayaran prabayar terpadu seperti Suica atau Pasmo semakin memudahkan transisi antar moda.
Keberhasilan ini didukung oleh fokus pada Faktor Kenyamanan Pejalan Kaki. Studi mengenai keinginan berjalan kaki menegaskan bahwa faktor-faktor utama yang memengaruhi keputusan untuk berjalan adalah kenyamanan, kepraktisan, dan keamanan. Regulasi desain (seperti Pedoman Bayangan Matahari ) dan zonasi yang terorganisir (yang meminimalkan lalu lintas dan kebisingan di area residensial ) secara langsung meningkatkan faktor-faktor ini, mengurangi keengganan berjalan kaki.
Orde Tersembunyi di Balik Chaos Urban: Kepadatan yang Fungsional
Meskipun kota-kota Jepang sangat maju, morfologi perkotaan mereka sering menuai kritik dari pengamat Barat sebagai “membosankan, brutal, kacau, dan bahkan buruk rupa”. Hal ini disebabkan oleh kepadatan yang ekstrem dan kecepatan transformasi bangunan yang tinggi, yang terkadang tampak kurang terkoordinasi secara visual.
Namun, di balik kekacauan fisik ini, kota-kota Jepang mempertahankan tingkat stabilitas sosial yang tinggi dan sering masuk dalam peringkat kota terbaik dunia dalam hal kualitas hidup. Keadaan ini menunjukkan adanya tatanan tersembunyi yang memungkinkan penduduk urban untuk hidup relatif nyaman dan aman. Tatanan ini tidak terletak pada keseragaman estetika, melainkan pada fungsi mikro-skala dan jaringan sosial yang tangguh.
Model zonasi yang ketat mencegah komersialisasi berlebihan dan menjaga ketenangan di area residensial, yang secara langsung mengurangi perasaan terburu-buru atau “rasa balapan” dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan yang tenang dan lambat ini sangat kondusif bagi refleksi pribadi dan penemuan Ikigai, sebuah konsep yang menuntut waktu untuk merenung dan mencari tujuan sejati. Desain perkotaan berfungsi sebagai mekanisme pengatur laju kehidupan yang vital untuk memelihara kesejahteraan mental yang mendukung filosofi Ikigai.
Table 1: Perbandingan Elemen Perencanaan Jepang dan Dampaknya pada Pengalaman Pejalan Kaki
| Elemen Perencanaan Utama | Karakteristik Implementasi Jepang | Dampak pada Pengalaman Berjalan Kaki (Walkability Outcome) | Dampak Ikigai/Filosofis |
| Zonasi Fleksibel (Micro-Mix) | Memungkinkan fasilitas komersial skala kecil (Shōtengai) di dekat permukiman (10-15 menit berjalan kaki). | Mengurangi ketergantungan kendaraan; menjadikan berjalan kaki sebagai moda utama untuk kebutuhan sehari-hari. | Memfasilitasi pemenuhan elemen Vocation (kebutuhan dunia) dan Mission (kontribusi sosial) secara fisik. |
| Regulasi Kenyamanan (Bayangan Matahari) | Pedoman Bayangan Matahari dan aturan garis miring sisi utara untuk tinggi bangunan. | Memastikan ruang publik dan jalur pejalan kaki nyaman, cerah, dan terlindungi dari bayangan masif. | Mendukung praktik mindfulness dan meningkatkan kualitas sensoris rutinitas harian, mengurangi keengganan berjalan. |
| Sentralisasi Transportasi Publik | Jaringan kereta api/subway yang terintegrasi dan tepat waktu. | Berjalan kaki sebagai komponen first-mile/last-mile yang tak terhindarkan, memperkuat kebiasaan berjalan. | Mengintegrasikan tujuan hidup (pekerjaan/Profession) dengan gerakan fisik rutin. |
Berjalan Kaki sebagai Aksis Penghubung: Ikigai yang Diwujudkan
Tindakan berjalan kaki di lingkungan yang ramah pejalan kaki berfungsi sebagai jembatan fisik dan psikologis antara kebutuhan individu, tuntutan sosial, dan pencarian makna hidup yang berkelanjutan.
Berjalan Kaki sebagai Manifestasi Tujuan Harian
Berjalan kaki secara rutin menyediakan tujuan harian yang jelas, seperti pergi ke pasar lokal, stasiun transportasi, atau mengambil bagian dalam kegiatan komunitas. Rutinitas terarah ini membantu individu menjalani hidup dengan tujuan yang jelas (Ikigai).
Rutinitas berjalan kaki yang terarah, terutama yang digunakan untuk berinteraksi dengan komunitas lokal, memberikan rasa puas yang mendalam dan secara substansial mengurangi frustrasi yang sering muncul saat menghadapi keterbatasan hidup sehari-hari. Berjalan kaki bertindak sebagai jembatan antara impian (Passion) dan realitas harian (Mission/Vocation). Ini adalah praktik sederhana yang memberikan hasil psikologis yang nyata dengan menyeimbangkan semua aspek Ikigai—pekerjaan, cinta, dan kontribusi kepada masyarakat.
Implikasi Spasial: Jarak yang Mendorong Kedekatan
Desain urban Jepang memastikan bahwa kehidupan sehari-hari sebagian besar dilakukan dalam jarak berjalan kaki, yang secara alami memperlambat laju hidup di area residensial. Pengurangan laju ini sangat penting untuk kesehatan mental, memungkinkan waktu refleksi yang diperlukan untuk mengidentifikasi dan memelihara tujuan hidup sejati.
Lingkungan yang dapat diakses dengan berjalan kaki memaksimalkan peluang untuk interaksi tak terduga (casual encounters). Keintiman spasial ini mengubah perjalanan menjadi platform sosial. Dalam konteks ini, kualitas jalur pejalan kaki (kenyamanan dan keamanan) adalah penentu kritis. Jika kualitasnya buruk, seperti yang ditunjukkan oleh penelitian, pengguna akan enggan menggunakan transportasi umum yang berdekatan atau mengakses komunitas. Oleh karena itu, kegagalan infrastruktur pejalan kaki secara langsung menyebabkan kegagalan sosial karena memutus jalur fisik menuju Vocation dan Mission dalam Ikigai.
Investasi dalam trotoar dan estetika jalan (seperti penerangan, kebersihan, dan perlindungan dari bayangan ) oleh karena itu bukan sekadar pengeluaran infrastruktur, melainkan investasi langsung dalam kesehatan sosial dan filosofis warganya.
Studi menunjukkan bahwa ketika aktivitas harian terpusat dalam jaringan jalan kaki, interaksi yang frekuen menyebabkan penduduk “saling mengenal dengan baik”. Saling kenal ini menghasilkan stabilitas komunitas, ditunjukkan dengan tingkat relokasi dan kekosongan properti yang rendah. Lingkungan yang dapat diakses dengan berjalan kaki di Jepang menghasilkan ekonomi sosiologis di mana biaya transaksi sosial (seperti membangun kepercayaan atau mencari dukungan) berkurang secara signifikan karena jaringan sosial yang kuat dan sudah ada. Stabilitas ini adalah hasil sosiologis yang memungkinkan Ikigai berakar kuat dalam konteks lokal dan jangka panjang.
Walkability dan Peningkatan Modal Sosial (Community)
Bagian ini mengeksplorasi bagaimana desain urban yang mengutamakan pejalan kaki di Jepang secara sistematis membangun modal sosial—elemen inti yang menjamin kohesi, keselamatan, dan kualitas hidup komunitas.
Hubungan Kausal: Walkability dan Modal Sosial
Modal sosial didefinisikan sebagai fitur organisasi sosial seperti jaringan, kepercayaan, dan norma timbal balik (reciprocity) yang memfasilitasi kerja sama untuk kepentingan bersama.
Tinjauan literatur dan bukti empiris dari Jepang secara konsisten menegaskan adanya kaitan kausal: lingkungan yang dapat diakses dengan berjalan kaki adalah penentu modal sosial yang signifikan, terutama di kalangan lansia. Ini menunjukkan bahwa desain fisik kota, melalui jaminan interaksi yang berulang, secara langsung memengaruhi kohesi sosial.
Modal sosial ini diperkuat oleh nilai-nilai budaya yang mendasarinya, seperti Giri (kewajiban sosial) yang menuntut keharmonisan sosial. Lingkungan yang dirancang untuk pejalan kaki secara fisik menyediakan tempat yang mudah diakses untuk mempraktikkan kewajiban timbal balik ini, memastikan bahwa ikatan sosial tidak terdegradasi menjadi isolasi.
Studi Kasus Kritis: Shōtengai – Inkubator Interaksi Sosial
Inkubator utama untuk pembentukan modal sosial di lingkungan Jepang adalah Shōtengai (商店街), yang secara harfiah berarti “jalan komersial”. Ini adalah distrik perbelanjaan tradisional yang dicirikan oleh susunan linier toko-toko ritel kecil yang independen, seringkali di bawah arkade beratap.
Shōtengai berfungsi sebagai pusat komunitas yang vital, mengintegrasikan perdagangan dengan praktik budaya seperti festival dan pasar musiman. Jalan-jalan ini berfokus pada aksesibilitas dan kohesi lingkungan. Model guna lahan campurannya melibatkan usaha milik keluarga, toko manisan tradisional, toko kebutuhan sehari-hari, hingga ruang komersial yang ditempati oleh banyak penyewa. Produk yang ditawarkan seringkali menekankan barang-barang lokal, segar, dan unik.
Sifat shōtengai yang berulang dan didedikasikan untuk pejalan kaki menjamin bahwa penduduk bertemu secara teratur dan tak terduga. Keintiman spasial ini mengubah transaksi komersial menjadi interaksi sosial, secara efektif membangun jaringan dan kepercayaan yang merupakan inti dari modal sosial.
Lebih jauh, shōtengai adalah perwujudan fisik dari Ikigai:
- Bagi pemilik usaha, shōtengai adalah tempat Profession, Vocation, dan Mission mereka terpenuhi melalui pelayanan lokal yang stabil.
- Bagi penduduk, berjalan kaki ke shōtengai adalah manifestasi harian dari Vocation (bertemu kebutuhan harian) dan Mission (mendukung ekonomi komunitas).
Hal ini menciptakan sistem zonasi yang mendorong konsumsi yang bermakna (purposeful consumption). Karena tata kota mendukung keberadaan shōtengai yang fokus pada produk lokal, penduduk secara sadar atau tidak sadar didorong untuk membeli secara lokal. Rutinitas ekonomi sehari-hari ini berkorelasi langsung dengan rasa kontribusi sosial, memperkuat inti Ikigai.
Dampak Sosiologis Jangka Panjang
Modal sosial yang tinggi yang dihasilkan oleh lingkungan walkable berfungsi sebagai agen stabilisasi sosial yang kuat. Meskipun kota-kota Jepang dikenal karena kepadatan dan perubahan fisik yang cepat (yang mungkin dianggap ‘kacau’ oleh standar Barat ), kepercayaan kolektif yang dibangun melalui interaksi yang tak terhindarkan menahan kekacauan spasial agar tidak berubah menjadi kekacauan sosial.
Lingkungan yang ramah pejalan kaki mempromosikan tingkat interaksi yang lebih tinggi, yang secara langsung berkontribusi pada stabilitas dan keselamatan lingkungan. Ini sangat penting mengingat demografi Jepang yang menua. Walkability memastikan bahwa lansia tetap terhubung secara sosial, mempertahankan sense of purpose dan partisipasi sosial yang sangat vital, sehingga mencegah isolasi sosial yang menjadi ancaman besar bagi Ikigai.
Oleh karena itu, fokus kebijakan urban global tidak seharusnya meniru estetika Jepang yang terkadang membingungkan, melainkan meniru infrastruktur sosial (seperti shōtengai dan jalur pejalan kaki yang nyaman) yang menghasilkan hasil sosial yang tangguh dan kohesif.
Table 2: Indikator Kunci Modal Sosial yang Didorong oleh Lingkungan Walkable di Jepang
| Indikator Modal Sosial | Mekanisme Pendorong dalam Lingkungan Walkable | Keterkaitan Ikigai |
| Kepercayaan dan Resiprositas (Trust) | Interaksi wajah-ke-wajah yang frekuen dan berulang di pusat harian (shōtengai) dan jalur komuter. | Interaksi adalah pemenuhan Mission (Kontribusi Sosial) yang mengarah pada rasa puas dan tujuan. |
| Stabilitas Komunitas | Penduduk lokal sering mengenal satu sama lain; menghasilkan tingkat relokasi dan kekosongan properti yang rendah. | Rasa memiliki dan terintegrasi mendukung kesehatan mental dan tujuan hidup jangka panjang. |
| Jaringan Dukungan Sosial | Akses mudah ke layanan dan titik pertemuan publik/sosial tanpa kendaraan. | Memungkinkan lansia untuk mempertahankan sense of purpose dan partisipasi sosial yang vital. |
Kesimpulan dan Implikasi Kebijakan Urban Global
Sintesis Ketergantungan Morfologi, Filosofi, dan Sosial
Analisis ini menyimpulkan bahwa seni berjalan kaki di Jepang adalah hasil dari tata kota yang disengaja dan terstruktur. Lingkungan yang ramah pejalan kaki di Jepang bukanlah produk sampingan dari kemajuan ekonomi, tetapi merupakan kebijakan yang secara struktural mendorong rutinitas harian yang lambat, interaktif, dan terintegrasi dengan tujuan hidup.
Struktur ini adalah fondasi fisik yang memungkinkan filosofi Ikigai dan pembentukan Modal Sosial berkembang secara organik. Terdapat ketergantungan timbal balik yang jelas:
- Ikigai membutuhkan manifestasi fisik dari Vocation dan Mission, yang difasilitasi oleh Walkability.
- Walkability yang nyaman dan terintegrasi menciptakan Modal Sosial melalui interaksi yang berulang.
- Modal Sosial memastikan stabilitas, kohesi, dan keamanan komunitas (Orde Tersembunyi), yang pada gilirannya mempertahankan rutinitas Walkability.
Desain kota Jepang secara efektif mengintegrasikan transportasi, komersial, dan residensial dalam skala manusia, mengubah perjalanan sehari-hari dari sekadar pergerakan menjadi praktik filosofis dan sosial yang vital.
Rekomendasi Kebijakan Urban Global
Model urban Jepang menawarkan pelajaran berharga bagi perencana kota di seluruh dunia yang berjuang melawan isolasi sosial dan penyebaran urban yang tidak berkelanjutan:
- Mengadopsi Regulasi Kualitas Pejalan Kaki (Kenyamanan Sensoris): Perencana harus melampaui metrik jarak semata (misalnya, Walk Score) dan fokus pada kualitas pengalaman berjalan kaki. Hal ini mencakup penerapan regulasi yang menjamin kenyamanan sensoris (seperti pedoman Bayangan Matahari ), memastikan keamanan, kebersihan, dan perlindungan dari cuaca.
- Mengembangkan Micro-Mix Zoning yang Terstruktur: Kebijakan harus mendorong model Shōtengai—bukan pusat perbelanjaan besar, tetapi integrasi ritel independen skala kecil yang melayani kebutuhan lokal dalam radius 10 hingga 15 menit berjalan kaki dari permukiman. Integrasi guna lahan mikro ini memungkinkan warga memenuhi Vocation dan Mission mereka melalui konsumsi lokal dan partisipasi komunitas.
- Memprioritaskan Ketenangan Lingkungan Residensial: Sistem zonasi harus digunakan secara efektif untuk melindungi zona residensial dari over-commercialization, kebisingan, dan lalu lintas kendaraan yang berlebihan. Hal ini penting untuk menjaga laju kehidupan yang lambat dan kondusif bagi refleksi pribadi dan pencarian tujuan hidup (Ikigai).
Untuk memperdalam pemahaman tentang hubungan ini, penelitian di masa depan harus berfokus pada:
- Investigasi empiris yang lebih rinci mengenai hubungan antara skor Walkability yang terukur secara objektif dan metrik kesejahteraan psikologis (pengukuran Ikigai dan sense of purpose) di berbagai kelompok usia.
- Analisis perbandingan komparatif model koridor komersial yang berorientasi pejalan kaki (Shōtengai) dan model yang berorientasi mobil dalam hal kemampuan mereka menghasilkan modal sosial, kepercayaan kolektif, dan stabilitas komunitas.
- Studi tentang dampak walkability pada konsep-konsep sosial Jepang yang lebih halus, seperti Amae (ketergantungan yang manis) dan interaksi Honne/Tatemae (diri sejati/diri publik) dalam konteks ruang publik yang ramah pejalan kaki.


