Loading Now

Dari TikTok ke Meja Makan: Kuliner Khas Mana yang Viral dan Mengapa?

Algoritma sebagai Ahli Kuliner Baru

Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap makanan global tidak lagi didominasi oleh chef selebriti atau majalah kuliner tradisional. Kekuatan baru yang mengubah rantai pasokan, menu restoran, dan kebiasaan konsumen adalah algoritma video pendek, terutama melalui platform TikTok. Tagar seperti #FoodTok telah muncul sebagai kekuatan besar, mendemokratisasikan konten kuliner dan mengubah penggemar makanan kasual menjadi pencipta rasa berpengaruh. Tren makanan kini menyebar dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, mengubah hidangan yang dulunya niche menjadi fenomena mainstream dalam semalam.   

Laporan ini menganalisis tiga kategori kuliner yang paling sukses dalam transisi dari layar ponsel ke meja makan: kuliner Korea, Matcha Jepang, dan makanan Fusi/Novelty. Analisis ini berfokus pada mekanisme kunci—psikologi, estetika, dan aksesibilitas—yang mendorong hidangan-hidangan ini menjadi viral dan dampak nyatanya pada kebiasaan konsumsi global.

Mekanisme Virality: Psikologi Konten Makanan Pendek

Virality kuliner di media sosial bukanlah kebetulan; ia adalah hasil dari kombinasi pemicu psikologis dan teknis yang ditangkap oleh format video pendek:

  1. Daya Tarik Visual (Aesthetic Appeal): Makanan yang berwarna-warni, berlapis, atau memiliki tekstur yang memuaskan secara visual secara alami memiliki performa lebih baik di platform yang mengutamakan video.   

  2. Reproducibility (Aksesibilitas): Mayoritas resep viral cenderung sederhana dan cepat dibuat di rumah, seringkali menggunakan bahan-bahan umum atau pantry staples, sehingga meningkatkan partisipasi pengguna dari semua tingkat keahlian.

  3. Respons Psikologis dan ASMR: Melihat gambar makanan yang menggugah selera dapat memicu pusat penghargaan otak, meningkatkan rasa lapar dan kemungkinan makan impulsif. Konten sering menyertakan elemen ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response) dan narasi percakapan yang meningkatkan daya pikat sensorik.   

  4. Kredibilitas Influencer: Konsumen cenderung menganggap produk yang didukung oleh food influencer sebagai lebih terpercaya dan diinginkan dibandingkan yang dipromosikan melalui saluran pemasaran tradisional.

Studi Kasus 1: Dominasi K-Food (Korean Wave dan Koneksi Digital)

Korea Selatan telah menjadi kekuatan utama dalam tren makanan global, sebagian besar didorong oleh fenomena Hallyu atau Korean Wave—lonjakan popularitas budaya Korea di seluruh dunia. K-Food kini menjadi simbol Korean Wave bersama K-Pop.   

Dalgona Coffee: Kepuasan Aestetik dan Karantina

Salah satu tren K-Food paling eksplosif adalah Dalgona Coffee, minuman whipped coffee yang terdiri dari kopi instan, gula, dan air panas, dikocok hingga menjadi busa tebal dan lembut, kemudian disajikan di atas susu dingin.

  • Pemicu Virality: Dalgona Coffee menjadi viral karena Aksesibilitas dan Estetika. Resepnya hanya membutuhkan bahan-bahan dapur sederhana dan dapat dibuat di rumah (DIY), sebuah faktor penting selama periode karantina. Lapisan busa tebal yang kontras dengan susu di bawahnya memberikan efek visual yang memikat dan sangat Instagrammable. Meskipun menjadi viral pada 2020, minat terhadap Dalgona Coffee masih terus meningkat, dengan diskusi media sosial yang naik sebesar 17% dari tahun ke tahun, menunjukkan daya tahan tren ini.   

  • Decontextualization: Nama “Dalgona” sendiri merujuk pada permen gula Korea yang renyah. Namun, minuman ini memiliki kemiripan dengan minuman kopi kocok yang sudah lama ada di budaya lain, seperti Phenti Hui Coffee di India atau Frappe Yunani. Kecepatan media sosial seringkali mengakibatkan penyederhanaan konteks ini, di mana minuman tersebut dikenal secara global hanya dengan nama Korea-nya.   

Korean Fried Chicken (KFC) dan Corndog: Daya Tarik Indulgensi

Makanan cepat saji Korea lainnya, seperti Korean Fried Chicken (KFC) dan Korean Corndogs (roti jagung berisi sosis atau mozzarella) menjadi viral karena kombinasi Indulgensi, Mukbang, dan Cheese Pull.

  • KFC, dengan lapisan ganda yang renyah dan saus yang kaya, telah menjadi favorit rumah tangga global, dengan pesanan di Inggris saja melonjak 23% dari tahun ke tahun. Popularitasnya semakin didorong oleh pop culture dan media sosial, seperti kemunculan hidangan chimaek (ayam goreng dan bir) dalam drama-drama Korea. Fenomena ini bahkan mendorong restoran-restoran tradisional di Dubai untuk memasukkan hidangan ini ke dalam menu mereka setelah video TikTok tentang KFC menjadi viral.   

  • Korean Corndogs menjadi populer melalui video Mukbang dan ASMR yang secara spesifik menyoroti adegan menarik keju (cheese pull) dan suara mengunyah yang memuaskan. Mukbang, di mana individu merekam diri mereka makan sambil berinteraksi dengan penonton, menawarkan digital commensality dan hiburan, terutama bagi audiens muda.   

Studi Kasus 2: Matcha Jepang (Kesehatan, Estetika, dan Tradisi)

Matcha, bubuk teh hijau halus dari Jepang, telah bertransisi dari minuman upacara tradisional menjadi ikon gaya hidup global. Warna hijau pekatnya telah menjadikannya bahan utama yang sangat disukai di media sosial.

  • Estetika Visual: Warna hijau mencolok, cerah, dan berbusa yang dihasilkan dari proses pengadukan (whisking) sangat menarik secara visual. Fotografi matcha yang berfokus pada estetika dan kemewahan warna sangat ideal untuk platform berbasis gambar dan video, yang membantu mempertajam kilau bubuk teh hijau tersebut di mata konsumen.

  • Manfaat Kesehatan (Superfood): Faktor utama popularitas matcha adalah manfaat kesehatannya. Matcha dipandang sebagai superfood dan alternatif yang ideal untuk kopi, memberikan energi tetapi dengan nuansa kesadaran (mindfulness) dan ketenangan. Konsumen modern semakin memprioritaskan asupan protein dan energi , dan matcha—terutama dalam bentuk fusion seperti matcha coconut butter —memenuhi tuntutan ini.   

  • Kreativitas Kuliner dan Fusion: Matcha memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa dalam kreasi kuliner, memungkinkan koki dan home cook untuk menciptakan berbagai resep, mulai dari matcha cheesecake, tiramisu, hingga es krim. Kemampuan beradaptasi ini memperluas jangkauan pasarnya jauh melampaui Upacara Teh Jepang (chanoyu) yang rumit.

Studi Kasus 3: Makanan Fusi dan Novelty (Indulgensi dan Dampak Rantai Pasok)

TikTok juga mendorong tren yang berfokus pada kombinasi rasa yang tidak terduga atau hidangan yang sangat memanjakan, seringkali menciptakan lonjakan permintaan yang mengguncang rantai pasok.

Dubai Pistachio Chocolate: Fenomena Novelty

Salah satu tren novelty yang paling kuat adalah Dubai Pistachio Chocolate—cokelat susu yang kaya dengan isian krim pistachio.   

  • Pemicu Virality: Daya tarik utama adalah kombinasi rasa mewah dan palet warna hijau-emas yang sangat fotogenik, menjadikannya “pernyataan gaya hidup”. Tren ini dimulai oleh seorang influencer pada akhir tahun 2023, yang dengan cepat menghasilkan lebih dari 100 juta tayangan dan puluhan ribu pesanan, bahkan mendorong bisnis kecil di Irlandia untuk melipatgandakan staf mereka demi memenuhi permintaan versi lokalnya.   

  • Adaptasi Cepat: Tren ini menunjukkan bagaimana bisnis bergerak cepat. Restoran dan kafe segera memanfaatkan tren ini dengan memperkenalkan menu turunan seperti pistachio croissant, pistachio soft serve, dan pistachio lattes.   

Butter Boards dan Turkish-Asian Mashups

Tren lain, seperti Butter Boards (mentega kocok dan beraroma yang dihias secara artistik di atas papan kayu) dan Fusion One-Pan Meals , menunjukkan tren yang menghargai estetika, shareability, dan kemudahan. Butter Boards, misalnya, menggabungkan presentasi visual yang menarik dengan konsep berbagi, menjadikannya ideal untuk video.   

Implikasi Nyata: Dari Layar ke Rantai Pasok

Pengaruh TikTok melampaui inspirasi resep; ia memiliki konsekuensi ekonomi dan logistik yang nyata:

  1. Dampak pada Rantai Pasok: Virality dapat menciptakan gejolak permintaan yang tak terduga, menyebabkan kekurangan bahan baku dalam skala nasional. Misalnya, satu resep macaroni casserole yang viral di TikTok menyebabkan kelangkaan pasta cavatappi secara nasional. Fenomena ini memaksa pengecer dan rantai grosir untuk menyesuaikan perencanaan inventaris mereka secara proaktif.   

  2. Adaptasi Bisnis: Merek makanan, supermarket, dan restoran tidak hanya menonton tren viral—mereka bertindak berdasarkan tren tersebut. Bisnis yang mengidentifikasi dan merespons tren dengan cepat (misalnya, dengan menu edisi terbatas atau inovasi produk) berada dalam posisi yang lebih baik untuk bertahan dan berkembang dalam ekonomi makanan yang didorong oleh volatilitas media sosial.   

Kesimpulan

Transisi kuliner khas dari TikTok ke meja makan adalah cerita tentang bagaimana Aksesibilitas, Estetika, dan Koneksi Kultural dipertukarkan. Roti jagung Korea, yang dipopulerkan melalui video cheese pull Mukbang, dan Matcha Jepang, yang diposisikan ulang sebagai minuman superfood yang fotogenik, menunjukkan bahwa makanan yang berhasil menjadi viral adalah makanan yang berhasil disederhanakan dan divisualisasikan untuk format video pendek, sambil tetap memberikan nilai tambah (baik itu kesehatan, indulgensi, atau cultural clout).

Kini, TikTok bukan lagi sekadar sideshow hiburan; ia adalah bagian penting dari sinyal permintaan yang dapat mengarahkan seluruh kategori belanja konsumen. Di era ini, rasa yang paling dicari adalah rasa yang paling menarik di layar.  Â